Resensi Film Brave (2012)

“Ada yang berkata, Takdir kita terikat dengan daratan. Seperti kaum kita yang tinggal di atasnya. Yang lain berkata, Takdir bagai benang yang ditenun menjadi kain. Jadi, takdir terikat dengan banyak orang. Itulah yang kita cari, atau kita perjuangkan untuk merubahnya. Ada yang tak pernah menemukan takdirnya. Tapi ada yang dituntun menuju ke takdirnya. (Preambule dari film Brave, 2012)”

Brave, FIlm yg SMART en KREATIF

Brave, FIlm keluarga yg SMART en KREATIF

Film Brave ini menurutku adalah film release tahun 2012 yang paling kreatif dan smart buat ditonton kita. Meskipun film Brave ini animasi kartun, kisah ini bukan sekedar kisah anak-anak yang konyol atau penuh khayalan. Film ini sarat dengan moral value yang bisa kita petik sarinya. Jika anda seorang Ibu, film ini pun bisa memberi kita suatu pandangan lain tentang sikap seorang Ibu.

Fergus dan Keluarga

Fergus dan Keluarga

Cerita ini tentang sebuah keluarga pemimpin kepala suku (Fergus namanya), yang memiliki istri cantik bernama Ellinor dengan 4 anak. Anak sulungnya perempuan, Merida, tuan putri berambut ikal panjang berwarna merah yang suka berpetualang dan pandai memanah.

Fergus mengajarkan Merida kecil memanah

Fergus mengajarkan Merida kecil memanah

Brave (2012).mkv_000113155

Keakraban sang Ibu (Ellinor) dengan Merida kecil

Sangat menarik memperhatikan karakter Ellinor, istri kepala suku yang cantik, lembut, beretika, pintar. Juga ibu yang serba bisa dan berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

Brave (2012).mkv_000344010

Pendapat Merida tentang ketiga adik kecilnya, mereka sangat beruntung, karena mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. “Aku tak pernah mendapat apapun. Karna aku seorang puteri. Aku sebagai panutan. Aku punya tugas, tanggung jawab, harapan. Seluruh kehidupanku sudah direncanakan. Dipersiapkan sampai aku menjadi, seperti Ibuku. Dia bertanggungjawab atas setiap hari dalam hidupku.” Pikir Merida.

Ketika sedang dilatih berpidato,  Ibu memaksanya mengeluarkan suara lebih keras atau semua ini sia sia. Itu menyebalkan dan tidak berguna. Kali lain, ibu menjelaskan perihal seputar kerajaan padanya. Dia mendengarkannya sambil menahan kantuk dan untuk menghilangkan kebosanan, dia memulai mencorat-coret kertas. Kata-kata lain yang ia dengar dari ibunya, “Seorang putri tidak tertawa keras-keras, seorang putri makan dengan beretika, merasa lebih empati, bangun lebih pagi, perhatian, bersabar, bersih, dan yang terpenting, seorang putri berusaha untuk menjadi sempurna”

Ekspresi Ellinor saat Merida tidak berjalan layaknya tuan puteri

Ekspresi Ellinor saat Merida tidak berjalan layaknya tuan puteri

Merida bete dengan aturan yang ditetapkan kepadanya

Merida bete dengan aturan yang ditetapkan kepadanya

Hal yang paling menyenangkan bagi Merida adalah ketika hari libur. Karena dia tidak harus menjadi putri di hari itu. Di hari itu tidak ada pelajaran, tidak ada kesukaran. Hal yang disukainya adalah membawa busur panahnya dan berkuda ke hutan sejak pagi hingga matahari terbenam. Baginya, hari itu adalah hari dimana apapun bisa terjadi. Dan baginya hari itu, hari dimana dia bisa merubah takdirnya.

Merida menikmati hari liburnya

Merida menikmati hari liburnya

Merida di hari libur

Merida di hari libur

Merida memanjat tebing air terjun api

Merida memanjat tebing air terjun api

Namun sepulangnya kembali ke istana, hari-harinya kembali penuh dengan aturan. Tidak boleh meletakkan busur di atas meja makan, tidak boleh ada terlalu banyak makanan di atas piringnya.

Ellinor sedang menasihati Merida

Ellinor sedang menasihati Merida

Ellinor mengingatkan Merida agar tidak meninggikan suara ketika tertawa

Ellinor mengingatkan Merida agar tidak meninggikan suara ketika tertawa

Kemudian konflik antara Merida dan Ellinor mulai muncul ketika sang Ibu menerima surat dari 3 suku/ Klan lain yang memberitahukan bahwa mereka akan datang untuk memperkenalkan putra mereka untuk melamar Merida. Dalam adat di wilayah tersebut, putra kepala suku sekitar akan berkompetisi untuk mendapatkan Merida, anak pemimpin kepala suku. Bagi ibunya, hal ini menggembirakan. Tapi bagi Merida hal ini sangat menyebalkan.

Merida merasa ibunya tidak pernah mendengarkan keinginannya

Merida merasa ibunya tidak pernah mendengarkan keinginannya

Inilah pertengkaran di antara mereka:

Ellinor : Merida, inilah yang kau persiapkan sepanjang hidupmu.

Merida : Tidak..! Inilah yang kau siapkan untukku sepanjang hidupku..!! Aku tak bisa melakukannya ! Kau tak bisa memaksaku..! Ini tidak adil…!! (sambil meninggikan suara)

Ellinor : Ini hanya pernikahan, ini bukan akhir dunia.

Tetap saja, mereka belum bisa berdamai.

Namun, kesepakatan antar klan sudah terjadi. Siap atau tidak siap, Merida harus menjalani semua itu.

Para klan pun datang dan putra kepala klan sudah siap untuk berkompetisi.

Merida didandani pakaian resmi oleh ibunya, namun pakaian itu kesempitan

Merida didandani pakaian resmi oleh ibunya, namun pakaian itu kesempitan

Keluarga Fergus menyambut para klan

Keluarga Fergus menyambut para klan

Kompetisi antar putra klan pun berlangsung dan aturan dibacakan. Bukan Merida jika dia membiarkan semua terjadi begitu saja. dengan cara dia, tanpa melawan peraturan kompetisi yang ada, Merida mengacaukan kompetisi.

Merida mengacaukan kompetisi

Merida mengacaukan kompetisi

Bagi ibunya, hal itu membuatnya malu. Mereka pun bertengkar hebat.

Brave (2012).mkv_001641682Meskipun aku sudah nonton film ini berkali-kali, pas sesi-sesi ini mesti bikin aku pengen nangis.. *siapin tisu banyak-banyak..

Ini rangkaiannya di slideshow in biar lebih jelas.

This slideshow requires JavaScript.

Sedih banget waktu ngeliat Merida kabur sambil nangis dari istana dengan kudanya ke hutan setelah ibunya membuang busurnya ke tungku perapian. Sedih, karena ketika Merida keluar, Ellinor sebenarnya mengambil kembali busur itu (sebelum terbakar habis) dan menunduk menyesali sikapnya pada Merida. Mungkin mempermalukan keluarganya di depan para klan, bukanlah apa-apa baginya. Namun Merida merobek hiasan dinding bergambar Ellinor, suaminya dan Merida, yang dia sulam sendiri dengan tangannya.. Itu membuatnya naik pitam dan hilang kendali. *Huhuhu… Tapi tak seharusnya berakhir seperti ini…mereka sebenernya saling menyayangi…jadi sedih…hiks hiks…

Oke.. kembali ke pembaca.. Film ini sungguh sangat smart dan kreatif. Buktinya aku nggak bosen-bosen kembali menontonnya. Tidak seperti film lain yang alur ceritanya bisa ditebak, film ini menyuguhkan plot cerita yang apik. Dan bedanya dengan film fiksi lain, meskipun berisi kisah dongeng, namun kita yang berada di dunia nyata bisa mengambil moral value untuk bisa menjadi lebih bijak dalam kehidupan kita. Bener-bener smart dan kreatif.

Film ini sangat direkomendasikan buat ditonton. Apalagi bentar lagi kan liburan akhir tahun, tuh.. kalo ada kesempatan, ajakin keluarga buat ngumpul bareng trus nonton film ini. Pasti semua suka, mulai dari anak-anak sampe kakek nenek.

Nah, karna film ini sangat aku rekomendasikan buat ditonton, aku nggak akan menceritakan sampai akhir kisah disini. Yang jelas, setelah Merida kabur ke hutan, sampe akhir cerita, merupakan  perjalanan Merida dan Ibunya untuk saling lebih mengerti satu sama lain. Ceritanya sangat menyentuh dan kreatif banget. Jangan kaget, ya.. ada kejutan besar buat penonton di tengah ceritanya.. Kejutan apa itu..? Cari tau dengan jarimu dan tonton film Brave segera.. Dijamin, nggak bakal nyesel deh..

Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel

Note:

Semua foto film Brave di atas, saya capture sendiri dari aplikasi gomPlayer. Bukan dari googling. Dan di uploadnya jelas pake Jagoan internet saya, SMARTFREN..

Ini dia Jagoan Internet kita..

Ini da cuplikan gambarnya lagi:

This slideshow requires JavaScript.

4 thoughts on “Resensi Film Brave (2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s